The 7 Happiness Indicator (7 Indikator Kebahagiaan)

  • Whatsapp

Oleh Ahmad Rifai

Lempuing, INFOSUMSEL.com – Setiap manusia punya satu persamaan yang sangat mendasar; sama-sama ingin bahagia. Begitu kata Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Miftah Daaris Sa’adah.

Para pakar “psikologi positif” pun mengakatakan demikian, bahwa pencarian terbesar setiap manusia adalah kebahagiaan.

Namun bahagia seperti apa yang semestinya kita harap?

Mari sejenak belajar kepada Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu.
Suatu hari ia ditanya oleh para Tabiā€™in (generasi sesudah para Sahabat) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Ibnu Abbas menjawab bahwa ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

1. Hati yang bersyukur.
Hati yang Ridho atas apapun yang Allah berikan dan takdirkan pada kita. Tidak hobi mengeluh, sebab mengeluh adalah pintu tidak menerima atas takdir Allah Ta’ala. Tugas kita bukan berhasil tugas kita adalah berikhtiar. Hasil urusan Allah sedangkan ikhtiar maksimal urusan kita. Tugas kita bukan memastikan tapi tugas kita adalah memantaskan.

2. Pasangan hidup yang shalih.
Menikah adalah ibadah paling lama. Maka jika kita belum memiliki pasangan shalih maka kebahagiaan akan semakin sempit. Sebab pasangan adalah orang yang berinteraksi Setiap hari dengan kita. Data BPS 2018 tingkat perceraian di +62 mencapai 50 kasus per jam. Maka ini harus menjadi perhatian membenahi keharmonisan di keluarga.

3. Anak sholeh.
Iman itu tidak diwarisi, iman itu tidak bisa diperjual belikan. Begitu juga, memiliki anak sholeh perlu kesungguhan untuk mendidiknya. Survei menyatakan bahwa satu dari 5 penyesalan orang tua (jompo) di usia senjanya adalah tidak mendidik anaknya dimasa kecil dengan sungguh-sungguh. Harta bertumpuk-tumpuk jika anak tak shalih maka akan terasa ambyar.

4. Lingkungan yang kondusif.
Jika jiwa kita masih rapuh, mudah rapuh dan terpengaruh maka carilah lingkungan yang baik. Tetangga yang baik. Hidup itu pilihannya cuma dua, jika tidak mewarnai ya terwarnai.

5. Harta yang halal.
Islam tidak melarang untuk menjadi kaya. Tapi islam memberi aturan harta kita untuk dipastikan halal. Halal itu wajib, kaya itu biasa aja. Kita tidak dituntut kenapa tidak jadi kaya, tapi kita akan ditanya harta kita dari mana dan untuk apa (halal).

6. Semangat memahami agama
Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu. Jalan surgapun dekat dengan ilmu. Pahami agama dengan baik dan amalkan. Belajar dan belajar. Jangan merasa sudah cukup atas ilmu tentang agama. Ilmu itu luas.

7. Umur barakah.
Umur yang penuh dengan amal kebaikan dan kebermanfaatan. Tiada hari tanpa menambah pahala untuk kembali ke kampung halaman kita. Asal kita sesungguhnya adalah surga maka siapkan untuk kembali kesana dengan sebaik-baik bekal yakni taqwa.

Penulis adalah praktisi birokrasi di kantor Camat Lempuing Jaya.

#IslamicLifeMapping
#TalentsMapping
#EKSELENSIAtraining

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *