Palestina, INFOSUMSEL.COM – Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam Hamas, secara resmi mengumumkan gugurnya juru bicara legendarisnya, Abu Ubaidah, sekaligus mengungkap identitas aslinya untuk pertama kali kepada publik.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin (29/12), Al-Qassam menyampaikan duka cita atas gugurnya “komandan bertopeng” Abu Ubaidah, yang bernama asli Hudzaifah Samir Abdullah Al-Kahlout, dengan kuniyah Abu Ibrahim, selaku juru bicara Brigade Al-Qassam.
Selama bertahun-tahun, Abu Ubaidah menjalankan tugasnya sebagai suara resmi perlawanan tanpa pernah menyingkap identitas pribadinya, menjadikannya simbol keteguhan, kerahasiaan, dan profesionalisme dalam perjuangan bersenjata Palestina.
Namanya semakin dikenal luas di dunia Arab dan Islam, terutama sejak Operasi Thufan Al-Aqsha yang dilancarkan perlawanan Palestina terhadap pangkalan dan permukiman “Israel” pada 7 Oktober 2023.
Dalam hampir dua tahun terakhir, Abu Ubaidah tampil secara rutin menyampaikan laporan medan tempur, pernyataan sikap perlawanan, serta pesan-pesan keteguhan kepada umat, menjadikannya figur yang dinanti jutaan manusia di berbagai belahan dunia.
Penghormatan untuk Seorang Ksatria Umat
Dalam pernyataan dukanya, Brigade Al-Qassam menggambarkan Abu Ubaidah sebagai sosok yang memiliki kedudukan istimewa di hati umat.
“Kami berhenti dengan penuh takzim di hadapan pemilik maqam ini. Sosok bertopeng yang menyapa kalian dengan suara yang kuat, kata-kata yang jujur, dan kabar yang dinanti. Ia dicintai jutaan manusia, ditunggu kemunculannya, dan menjadi sumber inspirasi. Kufiyah merahnya menjelma simbol bagi orang-orang merdeka di seluruh dunia,” demikian pernyataan Al-Qassam.
Al-Qassam menyebutnya sebagai suara umat yang menggelegar, lelaki prinsip dan keteguhan, denyut Palestina, Al-Quds, rakyatnya, serta para pejuangnya, sekaligus pemimpin media perlawanan yang meninggalkan jejak mendalam dalam kesadaran umat Islam.
Disebutkan pula bahwa Abu Ubaidah tak pernah terputus dari rakyatnya bahkan dalam kondisi paling gelap. Ia berbicara dari jantung medan pertempuran, menguatkan, menenangkan, dan meneguhkan barisan, meski berada di bawah ancaman pembunuhan dan pengejaran intensif.
“Ia telah turun dari kudanya setelah dua dekade membuat musuh murka dan menenangkan hati kaum beriman, lalu menghadap Allah dalam keadaan terbaik,” lanjut pernyataan tersebut.
Brigade Al-Qassam menegaskan bahwa Abu Ubaidah memimpin sistem media perlawanan dengan kecakapan dan keteguhan tinggi, serta bersama para mujahid lainnya menorehkan performa perjuangan yang disaksikan kawan maupun lawan.
Thufan Al-Aqsha: Ledakan Kesadaran Umat
Dalam konteks yang lebih luas, Al-Qassam menegaskan bahwa peristiwa 7 Oktober merupakan “ledakan dahsyat di wajah kezaliman, penindasan, pengepungan, dan seluruh bentuk agresi terhadap Al-Aqsha dan rakyat Palestina”, yang selama ini telah melampaui semua garis merah dan mengabaikan peringatan serta perjanjian internasional.
Menurut Al-Qassam, Thufan Al-Aqsha hadir untuk meluruskan arah perjuangan dan mengembalikan isu Palestina ke pusat perhatian dunia, setelah sebelumnya berangsur disingkirkan dari agenda global.
Operasi tersebut membangunkan nurani orang-orang merdeka di seluruh dunia, membongkar wajah kejahatan, kebrutalan, dan genosida penjajah, serta menempatkan “Israel” sebagai entitas kriminal yang lari dari keadilan.
Al-Qassam menegaskan bahwa keteguhan, pengorbanan, dan kesabaran rakyat Palestina telah menggagalkan seluruh rencana musuh—mulai dari pengusiran paksa, kamp-kamp penahanan, jebakan kematian, hingga upaya penjajahan ulang—serta meruntuhkan seluruh target perang mereka.
Sumber : Samirmusa/arrahmah.id
